- Beranda
- Cerita less waste
Less waste itu bukan tema dekorasi. Ini kerjaan setelah tamu pulang.
Banyak yang ngira "sustainable wedding" artinya undangan daun kering dan souvenir bibit tanaman. Buat kami bukan itu. Yang menentukan bukan gimana acaranya kelihatan, tapi apa yang tersisa di halaman jam sebelas malam.
Halaman ini isinya proses, bukan janji. Kalau setelah baca kamu merasa ini masih kurang, bilang aja — kami memang belum selesai.
Kami gak bilang "zero waste". Karena itu bohong.
Pernikahan itu selalu menghasilkan sampah. Sisa makanan, kemasan katering, plastik pembungkus dekorasi, kabel ties, tisu, air mineral gelas. Siapa pun yang bilang bisa bikin acara tanpa sampah sama sekali, kemungkinan besar dia belum pernah bantu beres-beres jam sebelas malam.
Yang bisa kami kerjakan itu tiga: mengurangi sampah dari awal lewat keputusan desain acara, memilah yang tetap ada supaya gak semuanya masuk satu karung, dan mengalihkan yang masih bisa diolah supaya gak berakhir di TPA Piyungan.
Angka yang kami laporkan ke pasangan adalah angka nomor tiga: berapa kilogram yang berhasil dialihkan dari total yang dihasilkan. Rata-rata kami di kisaran 80–90%. Sisanya jujur aja belum bisa — dan itu juga kami tulis di laporan.
Yang paling ngaruh justru keputusan sebelum acara
Memilah sampah itu penting, tapi dampaknya kalah jauh dibanding gak memproduksinya dari awal. Beberapa keputusan yang efeknya paling terasa:
- Katering pakai piring beling, bukan kotak sekali pakai. Ini satu keputusan yang bisa memangkas separuh volume sampah acara. Biasanya juga lebih murah kalau tamunya banyak.
- Dekorasi pakai tanaman hidup yang disewa, bukan bunga potong. Bunga potong layu dalam dua hari dan hampir selalu datang terbungkus plastik.
- Air minum dari dispenser dan gelas kaca, bukan air mineral gelas. Yang gelas itu kelihatan praktis, tapi 300 tamu berarti 300 gelas plastik plus sedotan.
- Souvenir yang kepake — atau gak ada souvenir sama sekali. Kami pernah punya pasangan yang ganti souvenir jadi sedekah atas nama tamu. Gak ada yang protes.
- Undangan digital untuk yang jauh, cetak seperlunya buat yang sepuh. Bukan semua-digital, karena itu gak sopan buat sebagian orang tua.
Semua ini kami bahas di pertemuan pertama, bukan dipaksakan. Kamu yang memutuskan. Kalau kamu tetap mau souvenir, ya kami bantu carikan yang paling masuk akal.
Empat jam yang gak ada di foto mana pun
Ini bagian kerja yang paling gak menarik dan paling menentukan. Tim kami tinggal setelah semua orang pulang.
Pisahkan sebelum diangkut
Empat karung: organik, plastik, kertas dan kardus, lalu residu. Pemilahan dilakukan di lokasi, bukan nanti di gudang — karena sekali tercampur dan basah, hampir semuanya jadi residu.
Ditimbang, satu per satu
Pakai timbangan gantung biasa. Angkanya dicatat di kertas, difoto, lalu dimasukkan ke laporan. Sederhana, tapi ini yang bikin klaim kami bisa dicek.
Dikirim ke tempat yang tepat
Organik ke pengolah kompos, anorganik ke bank sampah partner. Residu — yang memang gak ada jalan lain — masuk ke pengangkutan biasa. Kami catat berapa beratnya.
Laporannya dikirim ke kamu
Dalam 7 hari, kamu terima satu halaman: total sampah, rinciannya per jenis, berapa yang dialihkan, berapa yang enggak, dan ke mana perginya. Boleh kamu bagikan ke siapa pun.
Jam 22.10 — setelah tamu terakhir pulang
Jam 02.30 — sebelum tim pulang
Kenapa kami repot-repot nimbang?
Karena tanpa angka, "ramah lingkungan" itu cuma perasaan. Dan perasaan gak bisa diperbaiki dari tahun ke tahun.
Timbangan juga bikin kami jujur ke diri sendiri. Ada acara yang angkanya jelek, dan itu yang bikin kami ngubah cara kerja di acara berikutnya.
Sampahnya gak hilang. Ada alamatnya.
Kami bekerja sama dengan pengelola sampah di Jogja yang memang kerjanya itu. Kamu boleh minta kontaknya kalau mau memastikan sendiri.
Bank Sampah Rukun Makmur
Menerima plastik, kertas, kardus, dan logam hasil pemilahan kami. Mereka yang menyortir ulang dan menyalurkan ke pengepul atau daur ulang.
Kompos Jogja Lestari
Mengolah sisa makanan dan sampah daun jadi kompos. Sebagian komposnya balik ke kami, dipakai buat tanaman yang kami sewakan ke acara berikutnya.
Disalurkan langsung
Sisa kain, vas, dan perlengkapan yang masih bagus kami tawarkan dulu ke pasangan berikutnya atau ke masjid sekitar. Kalau gak ada yang butuh, baru dilepas.
Nama partner di atas kami cantumkan dengan izin mereka. Kalau kamu mau lihat bukti setornya, tinggal minta — kami simpan nota timbangnya.
Terus, apa hubungannya sama syar'i?
Pertanyaan ini sering muncul, dan wajar. Kesannya less waste itu urusan lingkungan, syar'i itu urusan agama, dua hal yang beda.
Buat kami nyambung di satu titik: larangan berlebih-lebihan. Yang bikin pernikahan jadi mahal dan bikin sampah menumpuk itu sumbernya sama — keinginan supaya kelihatan lebih dari yang perlu.
Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.
Kalau patokannya "secukupnya", banyak hal otomatis kepotong. Gapura raksasa, standing flower berderet, souvenir yang ditinggal di kursi. Yang tersisa cuma yang memang perlu. Biayanya turun, sampahnya turun, dan yang penting tetap kejadian: akadnya sah, tamunya dijamu, keluarganya senang.
Jadi kami gak lagi jualan tiga hal. Kami cuma jalan di satu arah, dan tiga hal itu kebetulan ada di jalan yang sama.
Mau acaramu dihitung juga?
Setiap pasangan yang kerja bareng kami dapat laporan sampahnya. Gak ada biaya tambahan — ini bagian dari kerjaan kami, bukan paket terpisah.