Walimah sederhana bukan berarti murahan — dan kenapa itu justru dianjurkan
Kalau dalam hati kamu pengen yang simpel aja, tapi takut dibilang pelit atau bikin keluarga malu — tulisan ini buat kamu.
Ditulis 15 Maret 2026 oleh tim Savitri Wedding
Ada satu kalimat yang kami dengar berkali-kali, dengan nada yang mirip-mirip: "Aku maunya sederhana aja sih... tapi ya gimana ya."
"Gimana ya" itu isinya biasanya: takut ibu kecewa, takut om-tante ngomong di belakang, takut dibandingin sama sepupu yang nikahannya di hotel. Bukan takut acaranya kurang bagus — takut penilaian orang.
Jadi mari kita luruskan satu hal duluan, karena ini yang sering kebalik.
Yang dianjurkan itu justru yang ringan
Dalam Islam, walimah — jamuan setelah akad — itu dianjurkan. Mengumpulkan orang dan mengumumkan pernikahan itu ada nilainya, bukan sesuatu yang dihindari.
Tapi yang jarang disampaikan berbarengan: ukurannya bukan kemewahan. Justru sebaliknya.
Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.
Dan contoh yang paling sering dikutip: Nabi ﷺ pernah mengadakan walimah dengan hidangan yang sangat sederhana. Bukan karena tidak mampu mengusahakan lebih, tapi karena memang itu yang cukup.
Jadi kalau kamu memilih yang sederhana, kamu gak sedang berkompromi ke bawah. Kamu sedang memilih yang memang dianjurkan.
Sederhana bukan berarti asal-asalan
Ini perlu ditegaskan, karena sebagian orang mendengar "sederhana" lalu membayangkan acara yang seadanya dan bikin tamu gak nyaman.
Sederhana yang kami maksud itu:
- Tamunya dijamu dengan layak. Makanannya cukup dan enak.
- Tempatnya nyaman — ada tempat duduk, ada tempat wudu, gak kepanasan.
- Acaranya jelas dan gak molor sampai tamu bosan nunggu.
- Orang tua merasa dihormati.
Yang dipangkas justru yang gak dirasakan tamu:
- Gapura besar yang dilewati orang dalam tiga detik
- Standing flower berderet yang layu besok paginya
- Souvenir yang setengahnya ketinggalan di kursi
- Undangan cetak mewah yang dibuang dalam seminggu
- Panggung tinggi yang malah bikin jarak sama tamu
Coba ingat-ingat nikahan terakhir yang kamu datangi. Kamu inget bentuk pelaminannya? Biasanya enggak. Yang diinget itu makanannya enak apa enggak, dan pengantinnya sempat nyalamin kamu apa enggak.
Cara ngomongnya ke orang tua
Ini bagian yang paling susah, dan ini juga yang paling sering kami bantu jembatani. Empat hal yang biasanya membantu:
1. Cari tahu dulu yang sebenarnya dikhawatirkan
Kalau ibu ngotot pengen rame, sering kali yang beliau khawatirkan bukan kemewahan — tapi ada saudara yang tersinggung karena gak diundang. Itu masalah yang beda, dan solusinya juga beda: perbaiki daftar tamu, bukan naikkan anggaran dekorasi.
Tanya pelan-pelan: "Bu, kalau acaranya di rumah aja, yang Ibu khawatirin apa?" Jawabannya sering mengejutkan.
2. Jangan mulai dari "gak mau", mulai dari "mau"
"Aku gak mau pakai pelaminan" itu terdengar seperti penolakan. "Aku pengennya tamu bisa deket sama kita, jadi kita mau duduk sejajar sama mereka" itu terdengar seperti keinginan.
Isinya sama. Yang satu bikin bertahan, yang satu bikin ngobrol.
3. Kasih angka, bukan cuma perasaan
"Kalau kita pangkas dekorasi dan souvenir, hematnya sekitar 15 juta. Uang itu bisa jadi dana darurat kita di tahun pertama."
Orang tua umumnya sangat masuk akal soal uang anaknya. Yang mereka lawan bukan kesederhanaan — mereka lawan kesan bahwa anaknya asal-asalan.
4. Kasih mereka satu hal yang mereka pegang penuh
Ini trik yang paling ampuh, dan tulus. Serahkan satu bagian sepenuhnya ke orang tua — daftar tamu dari pihak mereka, menu makanan, atau prosesi adat tertentu.
Orang tua yang punya bagian yang benar-benar mereka pegang biasanya jauh lebih longgar di bagian lain. Yang mereka butuhkan sering kali bukan kontrol atas semuanya — tapi rasa dilibatkan.
Kalau tetap ada yang nyinyir
Kemungkinan besar tetap ada. Selalu ada satu-dua orang yang komentar.
Tapi coba pikir begini: orang yang menilai nikahanmu dari besarnya pelaminan itu orang yang datang dua jam lalu pulang. Sementara kamu dan pasanganmu yang menanggung akibat keputusannya — bertahun-tahun.
Kami pernah dampingi akad dengan 60 tamu di halaman rumah, hidangannya besek bambu, tamu duduk lesehan di karpet pandan. Tiga bulan kemudian pengantinnya cerita: yang paling sering dibilang tamu bukan "acaranya sederhana ya", tapi "kok enak banget suasananya".
Satu hal terakhir
Kesederhanaan itu bukan cuma soal hemat. Acara yang gak berlebihan itu juga ninggalin sampah jauh lebih sedikit — dan itu bukan program tambahan, itu akibat langsung.
Buat kami tiga hal ini satu jalan: yang syar'i cenderung sederhana, yang sederhana cenderung terjangkau, dan yang terjangkau cenderung sedikit sampahnya. Kami buka prosesnya di sini, lengkap dengan bagian yang belum berhasil kami tangani.
Butuh orang ketiga buat ngomong sama keluarga?
Kadang yang dibutuhin bukan argumen yang lebih bagus, tapi orang lain yang menyampaikan. Kami sering diminta ngobrol langsung sama orang tua — dan itu gratis, gak harus jadi klien.